/>
1) Sejarah Dekranas
Selama berabad abad lalu ketika kelompok masyarakat berpindah secara bergelombang baik dari Korea, Vietnam dan China Selatan kearah selatan yaitu ke Kepulauan Indonesia. Mereka datang dengan membawa teknik baru yang ada hubungannya dengan tanah leluhurnya. Mereka datang dan pergi membawa barang dagangan ke dan dari Indonesia berupa kayu dan barang langka, seperti tembikar, manik-manik dan atau barang kerajinan yang terbuat dari bahan logam dll.
Penghidupan utama mereka bercocok tanam, beternak, menenun kain, membuat kerajinan serta tukar menukar barang-barang sehari-hari dengan benda kerajinan. Pengaruh agama Hindu dari India dan Budha dari China telah berbaur dengan aliran kepercayaan setempat. Raja-raja jaman Hindu biasa mengadakan upacara kebesaran sehingga memerlukan barang kerajinan mewah seperti misalnya, patung, batu, keris, dan perhiasan logam mulia.
Ketika masyarakat mulai berorganisasi secara sederhana dan dari sinilah telah menganut pembagian kerja, laki-laki melakukan pekerjaan lebih berat seperti berburu, nelayan, membuka lahan baru, sedangkan perempuan merawat anak, menganyam, menenun, dan lain sebagainya.
Diwaktu pendudukan Jepang dan Jaman Revolusi Kemerdekaan dengan adanya blockade dari luar menyebabkan bangkitnya usaha kerajinan sangat pesat misalnya kerajinan tenun dan pengecoran logam hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga terbentuknya Republik Indonesia Serikat mulai tampak upaya-upaya pemerintah dan masyarakat untuk menghimpun kembali aspek-aspek budaya (seni dan kerajinan) daerah dalam Negara Kesatuan. Karena memang Indonesia memiliki produk kerajinan yang bercirikan primitive (Irian Jaya), pengaruh agama (Aceh), tradisi adat (Sumatra Barat dan Batak), budaya kerajaan (Jawa, Bali, dan Bugis) serta pengaruh budaya kontemporer pengaruh asing.
Ciri dari kerajinan Indonesia dilihat dari bentuknya yang unik sesuai dengan alam dan iklim serta bahan yang diperoleh dari lingkungan hidupnya, seperti tanah liat, batu, daun, kulit, kayu, bamboo, kulit binatang, serta tumbuh-tumbuhan/kapas, yang diciptakan oleh tiap kelompok suku mengalami perkembangan dari waktu kewaktu
Dengan beragamnya seni kriya Indonesia bagaikan mutumanikan, sehingga tak terbilang banyaknya pengrajin yang menekuni dan hidup dari kerajinan. Demikian besarnya harkat kehidupan yang terkait dengan kerajinan menempatkan kerajinan sebagai bagian integral dari kehidupan perekonomian bangsa secara keseluruhan.
Menyadari posisi strategis kerajinan yang sebagian besar digeluti oleh kaum wanita di pedesaan yang dapat membawa perubahan perekonomian desa tersebut, maka hal ini mendorong berkumpulnya masyarakat pecinta seni dan budaya, organisasi kemasyarakatan, pemerhati, pengusaha, dan pemerintah sebagai unsur Pembina akhirnya memutuskan dan menghasilkan terbentuknya suatu wadah yaitu Dewan Kerajinan Nasional (DEKRANAS) pada tanggal 3 Maret 1980 dengan landasan hukum Surat Keputusan Bersama 2 Menteri yaitu Menteri Perindustrian dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pembentukan diprakarsai oleh beberapa tokoh antara lain: Ibu Ani Sudharsono (Mantan Menteri Sosial), Bapak Drs. Imam Sudarwo (Anggota DPR), Ibu Tati Darsoyo (Anggota DPR), Bapak Gito Sewojo (Direktur Jenderal Industri Kecil). Ada pun Menteri Perindustrian dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu adalah Bapak Ir. A. R. Soehoed dan Bapak Dr. Daoed Joesoef.
Sebagai ujung tombak organisasi dalam membina pengrajin yang secara teknis menangani langsung maka terbentulah Dekranasda Provinsi, Kabupaten dan Kota di Seluruh Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya produk-produk kerajinan tetap dapat bertahan bahkan telah mengarah kepada produk komersial yang secara ekonomi dapat menjadi bagian dari usaha masyarakat. Perkembangan ini telah membawa status budaya kerajinan Indonesia ke dunia Internasional dan diakui sebagai bagian dari penopang kehidupan perajin yang memiliki keterampilan. Bahkan produk kerajinan merupakan bagian nilai-nilai intelektual yang mendapat tempat semakin sejajar dengan hasil temuan maupun inovasi di bidang teknologi. Dari sinilah, maka DEKRANAS menetapkan untuk menjadi anggota dari pada World Crafts Council (WCC). Dan pada tahun 1985 Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Kerajinan se Dunia. Hasil dari konferensi ini terkenal dengan Deklarasi Jakarta yang isinya antara lain menyatakan bahwa kerajinan itu merupakan periuk nasi (rice bowl) bagi perajin utamanya di Negara-negara berkembang sehingga perlu diperjuangkan agar kerajinan dapat masuk ke Negara-negara maju dengan bea masuk yang wajar.
Berawal dari penggagas lahirnya DEKRANAS, maka kepengurusan DEKRANAS terdiri dari unsure-unsur yaitu kelompok perajin, LSM yang terkait, pejabat pemerintah yang terkait dalam bentuk Ex Officio serta pecinta seni. Dimana Ketua Umum dijabat oleh Insteri Wakil Presiden.
Dalam kurun waktu berdirinya sampai sekarang kepengurusan telah mengalami pergantian, yaitu:
a. Periode : 1980-1983, Ketua Umum dijabat oleh Ny. Nelly Adam Malik
b. Periode : 1983-1988, Ketua Umum dijabat oleh Ny. Karlinah Umah W.
c. Periode : 1988-1993, Ketua Umum dijabat oleh Ny. E. N. Sudharmono
d. Periode : 1993-1998, Ketua Umum dijabat oleh Ny. Try Sutrisno
e. Pada tahun 1998-1999, keadaan Negara dalam masa yang tidak menentu sehingga pada tahun ini Kepengurusan sempat vakum.
f. Periode : 1999-2004, Ketua Kehormatan dijabat oleh Ny. Dr. Hasri Ainun Habibie
g. Perkembangan selanjutnya adalah pada Agustus 2004 diadakan Munas yang akhirnya menetapkan susunan pengurus Periode : 2004-2009, di mana Ketua Umum dijabat oleh Ny. Hj. Mufidah Jusuf Kalla.
Seiring dengan adanya kebijaksanaan pemerintah mengenai otonomi daerah, maka pada tahun 2004 pula Kepengurusan DEKRANAS dikukuhkan dengan Surat Keputusan Bersama 6 Departemen/Kemetrian.
Pada Periode Kepengurusan sekaran ini DEKRANAS tertantang untuk mebina para Pengrajin lebih intensif lagi dalam peningkatan mutu dan desain produk sehingga bisa bersaing di pasar global. Tidak kalah pentingnya membantu pengrajin di dalam karyanya bisa terlindungi sehingga tidak bisa ditiru oleh Negara lain melalui pendaftaran HKI.
2) Sejarah Dekranasda Provinsi Jawa Barat
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jawa Barat, pertamakali dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Nomor 09/Dekran/SK/V 90 tanggal 22 Mei 1990. Sesuai dengan sifatnya, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) merupakan organisasi swasta yang dibentuk Pemerintah sebagai mitra Pemerintah bertujuan untuk melestarikan nilai – nilai seni budaya bangsa yang tercermin dalam produk kerajinan, mendorong industri kerajinan agar lebih maju dan berkembang serta meningkatkan kesejahteraan para perajin.
Dekranasda Provinsi Jawa Barat telah terbentuk selama dua puluh tahun tahun, kepengurusannya terdiri dari unsur pemerintah, pengusaha, seniman/budayawan/perajin serta unsur perguruan tinggi yang mempunyai keinginan yang sama yaitu untuk mengembangkan industri kerajinan Jawa Barat.
Organisasi Dekranasda juga telah dibentuk di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Barat, dikukuhkan dan dilantik oleh Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Barat. Hal ini bertujuan agar pembinaan industri kerajinan dapat lebih fokus sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki daerah dalam rangka pengembangan otonomi daerah yang lebih nyata.
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jawa Barat, pertamakali dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Nomor 09/Dekran/SK/V 90 tanggal 22 Mei 1990 dan sampai dengan saat ini telah mengalami 4 kali pergantian Ketua dari mulai :
· Ibu Yogi SM tahun 1990-1995
· Ibu R.Nuriana tahun 1995 – 2003
· Ibu Danny Setiawan tahun 2003 – 2008
· Ibu Netty Prasetiyani Heryawan 2008-2013
Ibu Yogi SM (1990-1995)
Ibu Yogi SM. menjabat sebagai Ketua Dekranasda Jawa Barat periode Tahun 1990-1995. Pada Tahun 1990, Provinsi Jawa Barat telah membentuk Kepengurusan Dekranasda Provinsi Jawa Barat yang di pimpin oleh Ibu Yogi SM, pada masa kepemimpinan Ibu Yogi pondasi kegiatan pembinaan dan pengembangan industri kerajinan Jawa Barat mulai dibangun atas kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kalangan akademisi, seniman, budayawan dan para pengusaha/perajin Jawa Barat. Fokus pembinaannya adalah pengembangan kualitas dan kuantitas produk kerajinan Jawa Barat, serta pembinaan organisasi Dekransada Kabupaten/Kota.
Ibu R.Nuriana (1995 – 2003)
Ibu R. Nuriana menjabat sebagai ketua Dekranasda Jabar periode Tahun 1995 – 2003 melalui Surat Keputusan Nomor : 74/SK.Dekranda/I/2002. Ibu R. Nuriana menjabat Ketua Dekranasda selama 2 periode, selain meneruskan program yang telah dibangun oleh Ketua Dekranasda terdahulu, juga program pembinaannya diarahkan untuk meningkatkan promosi dan pemasaran produk kerajinan Jawa Barat dengan membuat spot - spot pusat promosi secara permanen di 5 wilayah Jawa Barat diantaranya Serang, Bogor, Cirebon, Bekasi, dan Kota Bandung, juga menyelenggarakan event promosi secara tetap setiap 2 tahun sekali berupa Pekan Kerajinan Jawa Barat ( PKJB ) serta mengikuti event - event di dalam dan luar negeri lainnya.
Ibu Danny Setiawan (2003 - 2008)
Ibu Danny Setiawan menjabat Ketua Dekranasda Jawa Barat Periode 2003-2008. Pada masa kepemimpinan Ibu Danny Setiawan, Dekranasda Jawa Barat menjadi lebih berperan dalam mendukung program pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat, khusunya masyarakat pengrajin guna meningkatkan kesejahteraan para pengrajin.
Beberapa program dan kegiatan penting yang telah dilaksanakan pada masa kepemimpinan Ibu Danny Setiawan, antara lain :
· Menjalin kerjasama dengan Bank Jabar dalam rangka penyaluran kredit pengrajin;
· Mengikutsertakan para perajin pada event - event promosi yang dilaksanakan oleh SKPD di Jawa Barat;
· Mempromosikan kerajinan Jawa Barat di tingkat internasional seperti dalam penyelenggaraan peringatan Konferensi Asia Afrika ke-50,
· Pameran Tong-tong Fair di Belanda dan promosi kerajinan di Australia;
· Pembangunan Gedung Pusat Promosi dan Informasi Kerajinan Jawa Barat ( Jabar Craft Center ) Jalan Ir. H. Juanda No. 19 Bandung;
· Pembuatan Website www.dekranasjabar.com, sebagai sarana informasi dan promosi kerajinan Jawa Barat melalui dunia maya (internet).